KERANGKA PIJAKAN (PLATFORM) INCAGE .

Oleh: Nuzul Achjar, PhD (Founder InCage)

Latar Belakang.

Dalam dunia pendidikan, konsep geografi umumnya diartikan sebagai studi tentang Bumi, lingkungan alam dan fisiknya, aktivitas manusia dan perubahan sosial, interaksi di antara alam dan manusia serta dampaknya. Ilmu geografi juga mengenal konsep lokasi (location), tempat (place) dan skala (scale) mulai dari yang paling kecil bersifat  lokal, regional hingga global, sehingga hasil dari proses pendidikan geografi antara lain adalah memahami lingkungan alam dan manusia di atas ruang muka bumi di berbagai tingkatan. Menjadi jelas kiranya skala dalam materi pendidikan geografi akan ditentukan oleh tingkat pendidikan pelajar.

Makin disadari bahwa kualitas pendidikan geografi perlu terus ditingkatkan karena sangat penting bagi pembentukan karakter positip siswa dalam menghadapi tantangan masa depan. Dalam proses pembelajarannya, siswa dalam pendidikan geografi akan memperoleh beberapa  keterampilan antara lain melalui field trip, penggunaan peta dan media lainnya untuk melihat fenomena geografi. Jika proses pembelajaran berjalan baik maka pendidikan geografi akan memberikan kontribusi mendasar untuk semua anak dan remaja, meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggungjawab individu pelajar sebagai anggota masyarakat (citizenship).

Sebagai perbandingan, pendidikan geografi di sekolah AS dimulai dari taman kanak-kanak (Kindergarten – K) hingga ke sekolah pertama dan menengah atas level 12 (K-12). Pendidikan geografi dimaksudkan untuk menyiapkan siswa  menghadapi tantangan abad ke 21 dan kehidupan bermasyarakat (citizenship). Pendidikan geografi juga penting untuk menyiapkan siswa yang berminat meneruskan ke jenjang perguruan tinggi (post secondary) dengan berbagai program mulai dari pemasaran, ilmu lingkungan, hubungan international hingga engineering.

Walaupun latar sosial budaya dan ekonomi antara Indonesia dengan negara lain berbeda namun substansi tujuan pendidikan geografi bersifat universal. Dalam masyarakat modern setiap orang akan menghadapi dan mengambil keputusan yang membutuhkan argumen atau alasan berdasarkan pemahaman atas konsep geografi (geographic reasoning) yang akan memberikan dampak besar dalam kehidupan seseorang termasuk kesadaran terhadap lingkungan, responsif terhadap bencana sehingga menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak boleh juga dilupakan bahwa beberapa tantangan lain juga harus dihadapi seperti jumlah penduduk yang kian meningkat yang akan membawa ekses terhadap meningkatnya kemiskinan, disparitas pendapatan, sumber energi non-renewable yang makin menipis, kerusakan lingkungan – semuanya menjadi tanggung jawab bersama untuk mengatasinya. Pendidkan geografi memang dimaksudkan untuk membantu menyiapkan masyarakat menghadapi berbagai persoalan (Bednarz et al., 2013).

Dalam “International Declaration on Research in Geography Education” oleh Komisi Pendidikan Geografi, International Geographical Union (IGU) pada 2015 dikatakan bahwa peningkatkan kualitas pendidikan geografi harus diiringi pula dengan riset, baik di dalam maupun di luar kelas. Riset dalam pendidikan keguruan sudah menjadi kebijakan pemerintah ketika memperkenalkan kurikulum yang diluncurkan tahun 2013 (K-13)  menggantikan kurikulum sebelumnya. Guru-guru sebagai ujung tombak terdepan dalam implementasi K-13 didorong untuk menghasilkan karya-karya ilmiah, baik melalui Penelitian Tindakan Kelas – PTK (Classroom Action Research – CAR)  atau melalui penelitian Standar (Non PTK) (Mukminan, 2013), sesuai dengan Permendikbud No. 58 Tahun 2014, Tentang Kurikulum 2013 SMP/MTs.

Dalam Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs, berdasarkan kompetensi inti, pelajaran geografi merupakan bagian terintegrasi dari pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) bersama sama dengan pelajaran sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Pelajaran geografi dalam IPS SMP dianggap sebagai bagian utama atau platform kajian IPS. Untuk jenjang SMA/MA, pelajaran geografi ditetapkan sebagai bagian dari Kelompok Mata pelajaran Peminatan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik mengembangkan minat keilmuannya di perguruan tinggi, sebagaimana diatur dalam Permendikbud No. 59 Tahun. 2014, Tentang Kurikulum 2013 SMA/MA, Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA/MA (Mukminan, 2013).

Observasi secara umum terhadap  implementasi kurikulum K-13 baik untuk tingkat SMP maupun SMA menunjukkan bahwa evaluasi lebih banyak dilihat dari aspek teknis  administratif dibandingkan dengan substansi materi yang seyogyanya diberikan dengan memperhatikan perkembangan kekinian yang relevan dengan materi belajar. InCage mencoba memberikan kontribusi terhadap substansi dari materi pendidikan geografi itu sendiri yang dianggap relevan, terlepas dari regulasi teknis administratif yang harus diikuti. 

Keberadaan ilmu geografi yang unik menempatkannya pada posisi menjembatani ilmu sosial dan ilmu fisikal sehingga seyogyanya pendidikan geografi tidak lagi terkotak dengan dikotomi tajam, masuk salah satu rumpun ilmu sosial atau sains fisikal. Sejarah pemikiran ilmu geografi sejak dulu tetap bergerak secara konsisten sebagai ilmu dengan pendekatan spatial thinking. Ada suatu ketika ilmu geografi identik dengan kartografi yang berfungsi sebagai media komunikasi untuk menjelaskan perbedaan pola-pola ruang muka bumi melalui gradasi tone dan warna dari peta. Dalam perkembanganya, geografi bukan semata-mata tentang kartografi dengan membaca dan melakukan interpretasi peta, tetapi jauh melampaui ilmu tentang perpetaan: bagaimana ilmu geografi dapat mendorong pemahaman manusia tentang lingkungan di sekitarnya.

Dalam pendidikan geografi, dikotomi antara geografi sebagai rumpun ilmu sosial yang dipisahkan dari earth science yang masuk dalam rumpun sains fisikal antara lain disebabkan karena masih rendahnya kemampuan guru geografi khususnya dalam topik earth science. Kritik ditujukan kepada guru geografi yang dianggap tidak kompeten karena penguasaan materi yang rendah. Di sisi lain, guru earth science dianggap belum mampu menjelaskan bagaimana pengaruh intervensi manusia terhadap perubahan lanskap ruang muka bumi dan sebaliknya. Ahli pendidikan geografi berpendapat baik geografi maupun earth science sebenarnya berbicara tentang hal sama. Hubungan antara geografi dan earth science harus dilihat secara sistem yang terdiri dari  sub-sistem manusia dan sub-sistem alam itu sendiri melalui earth system science agar kedua topik dengan pendekatan berbeda lebih terlihat hubungannya (Viehrig et al., 2019).

Kajian  Bednarz dan Lee (2011), National Academy of Sciences (2006) menujukkan bahwa spatial thinking adalah salah satu bentuk kognisi manusia, sama halnya dengan kognisi verbal dan numerik (lihat Bednarz, R. dan J. Lee, 2019).  Studi oleh  Moorman dan Crichton (2018) dan Wai et al. (2009) juga menunjukkan bahwa spatial thinking mendukung kemampuan siswa dalam sains,  teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Siswa dengan nilai STEM yang tinggi juga menunjukkan kemampuan spatial thinking yang tinggi.

Dalam konteks pendidikan geografi, konsep spatial thinking seyogyanya diletakkan pada proses pemahaman dengan contoh aktual yang terus berubah dinamis di berbagai level pendidikan.  Di sini proses lebih diutamakan dibandingkan dengan penggunaan dan penguasaan alat analisis. Upaya peningkatan kualitas pendidikan geografi nasional yang hakiki adalah meletakkan konsep pendidikan geografi pada fondasi yang kokoh, tidak semata dilihat dari hasil Olimpiade Geografi sebagai indikator utama,  tetapi bagian dari proses panjang membentuk sumber daya manusia yang responsif terhadap perubahan dilihat dari fenomena geografi. Hal ini sejalan dengan pandangan IGU bahwa pendidikan geografi perlu mempertegas tujuan pendidikan geografi apapun muatan kurikulum lokal yang terkandung di dalamnya. Pendidikan geografi nasional harus senantiasa membenahi dan memperbaiki  kurikulum, adaptif dengan materi kualitas tinggi dalam pendidikan geografi. Perbaikan proses pendidikan harus pula diiringi dengan peningkatan kualitas guru geografi antara lain melalui riset empiris, dan cara mengajar efektif, kreatif dan inovatif.

Tujuan INCAGE.

Sebagai bagian dari kelompok masyarakat madani, InCage mencoba untuk memberikan kontribusi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan guru geografi nasional. Jika diperhatikan, secara keseluruhan, program pendidikan geografi di Indonesia didominasi oleh pendidikan keguruan geografi, jauh melampaui jumlah pendidikan akademik ilmu geografi itu sendiri. Pendidikan akademik geografi nasional masih bergulat dengan upaya untuk meningkatkan kualitas melalui pengajaran dan riset, sementara di sisi lain perhatian terhadap kualitas pendidikan geografi seperti terabaikan.  

Di satu sisi, Indonesia telah mengalami banyak perubahan seperti transformasi ekonomi dari pertanian ke arah industri dan makin besarnya peranan sektor jasa dalam perekonomian dengan basis ilmu pengetahuan (knowledge based economy), perkembangan industri kreatif yang telah merubah lanskap sosial ekonomi. Di samping itu tekanan terhadap lingkungan hidup dan perubahan lanskap alam karena manusia (antropogenik) semakin tinggi. Di sisi yang lain, dalam beberapa tahun terakhir ini kita melihat bagaimana pendidikan geografi termarjinalisasi dengan citra bahwa geografi lebih banyak menghapal (cape and bay geography) daripada proses untuk memahami.  Penggunaan alat analisis seperti perangkat lunak GIS seringkali tidak didasari atas makna dari  spatial thinking baik dalam konteks interaksi manusia dalam konteks lanskap urban, rural dan unit spasial lainnya, ataupun lanskap yang terbentuk karena pengaruh manusia terhadap alam.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh stakeholders seperti Ikatan Geograf Indonesia (IGI) yang mengusulkan agar  jam pendidikan geografi ditambah, suatu upaya yang patut diapreasiasi. Perhatian yang lebih besar terhadap upaya meningkatkan kualitas pendidikan memerlukan langkah dasar  antara identifikasi terhadap metode dan materi pengajaran yang ideal sehingga pendidikan geografi dapat menjadi basis bagi pembelajaran yang berguna bagi peningkatan kualitas individu dan masyarakat secara kolektif yang berguna untuk pembangunan bangsa Indonesia berkarakter.

Pada 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (ketika itu Kemendikbud) telah meluncurkan program K-13. InCage merasa perlu untuk meninjau dan meletakkan kembali konsepsi ilmu geografi pada tataran filosofi, konsepsi, teori serta sejarah pemikiran dalam ilmu geografi, dan menghubungkannya dengan pendidikan geografi khususnya di sekolah menengah dan pendidikan tinggi keguruan tanpa melupakan konsepsi pedagogi dan psikologi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan geografi berkualitas.

InCage dimaksudkan sebagai wadah untuk menampung gagasan yang terkait dengan upaya untuk peningkatan kualitas pendidikan geografi nasional. Keberadaan InCage adalah sebagai komplemen dari lembaga terkait yang sudah seperti Ikatan Geograf Indonesia (IGI), Asosiasi Guru Geografi atau dengan lembaga sejenis. Namun seperti dalam deklarasi Internasional Pendidikan Guru Geografi, diperlukan jejaring antara akademisi non kependidikan, guru geografi dan anggota masyarakat lainnya yang berminat dalam pendidikan geografi. InCage membuka jejaring dengan semua pihak di dalam negeri dan lembaga internasional.

Itulah sebabnya InCage secara bertahap akan menjalin jejaring dengan guru-guru geografi, pendidikan tinggi geografi, pemerintah pusat dan daerah, lembaga legislatif di tingkat pusat dan daerah, badan usaha  serta lembaga pendidikan dan sosial lainnya di seluruh Indonesia yang concern dengan pendidikan geografi berkualitas.

Penggunakan kata-kata “kreatif”, “inovatif” dan “peradaban” yang menjadi visi dan misi InCage mungkin terkesan terlalu progresif dan provokatif, tetapi  hal ini dimaksudkan agar kita tak lagi meletakkan pendidikan geografi sebagai business as usual yang telah berlangsung lama sehingga menimbulkan konsekuensi lain: pendidikan geografi nasional tetap berada posisi status quo, jika tidak dapat dikatakan tertinggal.  Pendidikan geografi yang dinamis adalah bagian dari upaya kita memberikan kerangka dasar untuk mendorong pelajar atau anak didik yang sadar akan lingkungan di sekitar, responsif terhadap perubahan baik alam dan manusia, penguatan modal sosial (social capital), bersikap adil dan demokratis, sebagai bagian kecil dari upaya membangun peradaban.

RUANG LINGKUP INCAGE.

Ruang lingkup InCage bergerak pada upaya mendorong gagasan, diskusi, dialog, seminar, workshop, riset, publikasi, dan advokasi khususnya yang berkaitan dengan pendidikan geografi baik dalam konteks nasional maupun internasional. Walaupun InCage dimaksudkan untuk advokasi pendidikan geografi dalam rangka mendorong pendidikan geografi yang kreatif inovatif, platform InCage pada dasarnya tetap berada dalam koridor UU Pendidikan Nasional. 

REFERENSI

Bednarz, R. dan J. Lee (2019). What improves spatial thinking? Evidence from the Spatial Thinking Abilities Test. International Research in Geographical and Environmental Education. DOI: 10.1080/10382046.2019.1626124.

Bednarz, S.W., Heffron, S., & Huynh, N.T. (Eds.). (2013). A road map for 21st century geography education: Geography education research (A report from the Geography Education Research Committee of the Road Map for 21st Century Geography Education Project). Washington, DC: Association of American Geographers. http://natgeoed.org/roadmap.

Bednarz, R. S. and Lee, J. (2011). Spatial thinking assessment; An invitation to participate. Procedia Social and Behavioral Sciences, 21, 103–107.

Moorman, L. A., & Crichton, S. (2018). Learner requirements and geospatial literacy challenges for making meaning with Google Earth. International Journal of Geospatial and Environmental Research, 5(3), Article 5. https://dc.uwm.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1074&context=ijger

Mukminan (2014). Kurikulum 2013, posisi matapelajaran geografi, dan inovasi pembelajaran geografi tingkat SMP dan SMA dalam kurikulum 2013. Makalah disajikan dan dibahas pada Kegiatan ARDGISS IN MOTION (AIM) dengan tema “Geo Education: Pelatihan Ilmu dan Instrument Geografi Untuk Peningkatan Sistem Pembelajaran” Diselenggarakan dalam rangka ARDGISS di Fakultas Geografi UGM tahun 2014, 27 -28 September 2014.

National Academy of Sciences Committee on Support for Thinking Spatially (2006). Learning to think spatially. Washington, DC: The National Academies Press.

Wai, J., Lubinski, D., & Benbow, C. P. (2009). Spatial ability for STEM domains: Aligning over 50 years of cumulative psychological knowledge solidifies its importance. Journal of Educational Psychology, 101(4), 817–835.

Viehrig, K.; D. Siegenthaler; S.Burri; S. Reinfried; S.Bednarz; M. Blankman; T. Bourke; C. Brooks; P. Hertig; J. Kersk; T. Kisser; M. Solem; J. Stoltman; Y. Behnke; R.Lane; M. Lupatini; N. Scholten; A. Siegmund; and S. Sprenger (2019). Issues in improving geography and earth science teacher education: results of the #IPGESTE 2016 conference. Journal of Geography in Higher Education 43(3): 1-23. DOI: 10.1080/03098265.2019.1608920.

INCAGE Indonesia © 2019 Geographic Society. All rights reserved | NaraDesain - Indonesia © 2019