MENDOBRAK PENDIDIKAN GEOGRAFI DI INDONESIA: MASIH RELEVANKAN DEFINISI GEOGRAFI?

Oleh: Nuzul Achjar, PhD (Founder InCage)

Pendahuluan

Berbagai opini tentang perubahan ataupun revitalisasi kurikulum pendidikan dasar dan menengah, seringkali dijustifikasi dengan tantangan abad ke 21 yang harus dihadapi oleh generasi mendatang. Pendidikan geografi sesungguhnya juga menghadapi tantangan abad ke 21 yang terus berubah dinamis apalagi pendidikan geografi terkait dengan masalah global disamping persoalan lokal dan regional.  Dalam konteks nasional muncul pula semboyan dan ungkapan  yang memberikan semangat dan motivasi dalam rangka menyambut 100 tahun Republik Indonesia pada 2045.

Pada 2045 Indonesia diproyeksikan termasuk dalam lima negara dengan PDB nominal terbesar dan dua puluh negara besar dengan pendapatan per kapita tinggi. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh dan berkualitas yang berimplikasi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di berbagai bidang. Di samping tahun emas 2045 muncul pula tantangan untuk menghadapi era Industri 4.0, era revolusi industri ke empat (fourth industrial revolution 4 atau 4IR). Dunia pendidikan diramaikan pula penyiapan sumber daya manusia dengan memanfaatkan Bonus Demografi dengan jumlah angkatan kerja usia muda yang potensial untuk pembangunan.

Dalam dunia pendidikan, dua dasa warsa ke depan dari sekarang hingga 2045 bukanlah jarak waktu yang terlalu panjang untuk dilalui sehingga dari sekarang upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga menengah dan pendidikan tinggi harus dimulai sesegera mungkin. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan geografi di berbagai level pendidikan nasional adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan geografi seyogyanya menyiapkan diri dalam menghadapi dinamika perubahan yang terjadi di berbagai bidang kehidupan agar dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Sesungguhnya pendidikan geografi memerlukan renovasi dalam konsep serta implementasinya agar tetap relevan dengan tantangan yang tengah dihadapi; bukan sekedar bagaimana pembelajar geografi dapat meneruskan minatnya pada pendidikan lanjutan ke berbagai program studi di tingkat yang lebih tinggi, namun jauh lebih penting adalah bagaimana pendidikan geografi memberikan fondasi bagi pembentukan karakter sebagai bagian dari anggota masyarakat dalam menjalani kehidupan sepanjang hayat (lifelong education).

Tentu disadari bahwa pembentukan karakter bukan berasal dari pendidikan geografi semata, tetapi ada harapan dari banyak pihak bahwa pendidikan geografi akan dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata. Hal ini dapat dilihat bahwa isu perubahan iklim, persoalan bencana, perubahan penggunaan lahan (landuse), migrasi  dan banyak lainnya memang akhirnya diharapkan muncul dari hasil pendidikan geografi. Sebagai perbandingan, sejak In 1994 Pemerintah Tiongkok mengeluarkan Agenda 21 Tentang Pembangunan Berkelanjutan yang menempatkan pendidikan geografi dari sekolah dasar hingga menengah sebagai elemen penting dalam pembelajaran entang sumber daya, ekologi, lingkungan dan pembangunan berkelanjutan (Guo et al.,  2018).

Kualitas pendidikan geografi di sekolah dasar dan menengah akan dipengaruhi oleh kualitas pendidik (guru) yang dihasilkan oleh pendidikan tinggi keguruan geografi. Dapat pula disimak, bahwa materi pendidikan tinggi keguruan seyogyanya berdampingan dengan perkembangan materi akademik geografi di universitas. Tampaknya perkembangan di masing-masing ketiga level pendidikan tidak selalu beriringan dan sejalan. Ada persoalan mismatch dan kemacetan  komunikasi yang terjadi di antara ketiga institusi pendidikan di berbagai level.

Pengamatan terhadap dinamika perkembangan perkembangan riset geografi di universitas di negara maju memberikan pengaruh (spillover) signifikan terhadap materi di pendidikan tinggi keguruan geografi. Hal ini dapat diamati tulisan di jurnal akademik dimana pendidikan keguruan selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan konteks pendidikan dasar dan menengah melalui pendekatan pedagogik melalui kurikulum atau silabus.

Adalah suatu kenyataan walaupun mungkin masih perlu diperdebatkan jika perkembangan riset keilmuan geografi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Singapura, Jepang, Hongkong, Tiongkok, dan bahkan dengan Malaysia sekalipun. Hal ini tercermin pula dari kurikulum dan silabus pendidikan geografi yang cenderung ketinggalan, tidak update dengan perkembangan ada. Di tengah ketertinggalan akademik di universitas, kurikulum universitas ini justru di copy paste begitu saja oleh pendidikan keguruan. Akibatnya guru-guru hasil perguruan tinggi pendidikan geografi cenderung statis dengan materi non pedagogik yang ketinggalan, tidak akomodatif terhadap kondisi aktual yang ada di sekitarnya. Hal ini telah berlangsung terus menerus sampai sekarang.

Tulisan ini dimaksudkan untuk membuka perspektif tentang relevansi pendidikan geografi sekarang dan ke depan dalam rangka menyiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan. Tulisan ini dimaksudkan juga untuk membuka ruang diskusi yang lebih intens dan debat sehubungan dengan tantangan yang harus dihadapi ke depan dan bagaimana menjawab tantangan tersebut dalam bentuk reformasi pendidikan geografi nasional melalui antara lain rekonstruksi atau ataupun revitalisasi kurikulum.